Selasa, 24 November 2009

Keutamaan Orang Alim

Keutamaan Orang Alim

Yang dimaksud orang alim / Fuqoha yaitu orang yang mempunyai dan memahami ilmu secara konprehensif, tidak hanya ilmu terapan [lahiriyah], tetapi juga ilmu kejiwaan manusia.

Allah SWT telah meninggikan derajad orang-orang berilmu dengan firman-firmannya :

1. QS Al Mujadalah : 11
2. QS Az Zumar : 9

Nabi SAW juga mengisyaratkan bahwa orang alim itu lebih utama, dengan sabdanya :

1. Para alim ulama adalah pewaris para nabi [HR Abu Daut, Ibnu Majah, Tirmidzi, Ibnu Majah]
2. Keutamaan seorang alim diatas seorang ‘abid sebagaimana keutamaanku atas serendah-rendahnya orang dari golongan shahabat-shahabatku [HR Tirmidzi]
3. Keutamaan orang yang berilmu diatas orang yang beribadah, seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang lainnya [HR Abu Daut, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Hiban]

Peringatan Bagi Orang Alim

Dari Abu Barzah Al Aslami, Rosulullah SAW bersabda : “tidak akan bergeser kaki seorang hamba hingga ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia perbuat, tentang hartanya darimana ia mendapatkan dan untuk apa ia membelanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa dia jadikan usang” [HR At Tirmidzi]

Dari Ibnu Abbas RA, Rosulullah SAW bersabda :”sesungguhnya ada sekelompok manusia dari umatku yang mereka memiliki ilmu pemahaman tentang agama, membaca Al Qur’an, lalu mereka mengatakan kita mendatangi para penguasa, lalu kita akan memperoleh bagian dari dunia mereka dan kita memuliakan mereka dengan agama kita. Hal ini tidak akan terjadi. Sebagaimana tidak bias dipetik dari sebuah pohon berduri kecuali duri, begitu juga tidak bias dipetik dari kedekatan mereka kecuali berbagai kesalahan” [HR Ibnu Majah]

Dari Abu Huroiroh RA, Rosulullah SAW bersabda :”barang siapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu ia merahasiakannya, maka ia akan dipakaikan kendali pada hari kiamat dengan kendali dari api neraka” [HR Abu Daut, At Tirmidzi]

Kisah Seorang Alim

Shuhaib RA berkata : Rosulullah SAW bersabda :”dahulu ada seorang raja yang mempunyai seorang ahli sihir, dan ketika merasa sudah tua, ai minta kepada raja seorang pemuda untuk diajarkan ilmu sihir. Maka raja mengirimkan pemuda yang diminta.

Ketika menuju ketempat ahli sihir, ia melewati rumah seorang rahib yang mengajarkan agama, maka duduklah pemuda itu di majlis untuk mendengarkan ajaran agama. Maka tertariklah ia sehingga ia terlambat sampai ketempat tukang sihir, dan dipukullah ia. Lalu ia mengeluh kepada rahib. Rahib berkata “jika kamu takut padanya, katakana “aku masih disuruh ibu”, dan jika pulang terlambat, katakana pada ibumu aku masih ditahan ahli sihir. Maka berjalanlah keadaan dengan baik.

Pada suatu hari tiba-tiba ada binatang buas ditengah jalan yang menyebabkan terhentinya semua orang yang akan melalui jalan itu, maka pemuda berkata “hari ini aku akan mengetahui ajaran sihirkah yang lebih baik atau ajaran rahib. Maka ia mengambil batu sambil berkata “Ya Allah, jika ajaran rahib lebih engkau sukai dari ajaran sahir, maka bunuhlah binatang ini supaya orang-orang dapat berjalan. Kemudian dilempar binatang itu, dan mati seketika. Segeralah ia sampaikan kejadian itu pada rahib. Tiba-tiba rahib itu berkata “anakku, kini engkau lebih utama daripada aku, jika kamu dapat ujian, jangan sekali-kali menunjuk aku. Kemudian pemuda itu mendapat karunia dari Allah, hingga dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Singkat cerita, ada teman raja yang sakit mata hingga buta, kemudian mendatangi pemuda itu minta disembuhkan, dan dengan izin Allah maka sembuhlah penyakitnya dan beriman ia kepada Allah. Ketika ditanya raja siapa yang telah menyembuhkaanya, ia menjawab Allah. Maka disiksalah ia supaya kembali bertuhan kepada raja, tetapi ia tetap pada agamanya sehingga terpaksa menunjuk pemuda itu.

Ketika sampai dihadapan raja, pemuda itu berkata bahwa yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah. Mendengar jawaban itu raja marah dan menyiksanya, maka ia menunjuk rahib.

Karena tidak mau meninggalkan agamanya, rahib dan teman raja itu dibunuh.

Kemudian pemuda itu dibawa keatas bukit dan disuruh melepaskan agamanya, karena tidak mau, ia akan dilepaskan kebawah. Iapun berdoa kepada Allah, maka seketika bergerak bukit itu, dan jatuhlah tentara-tentara yang membawanya dan matilah mereka. Pemuda itu kembali pada raja, lalu raja menyuruh untuk membuang pemuda itu ketengah laut, sesampainya ditengah laut, pemuda itu berdoa, maka terbaliklah perahu yang ditumpangi dan semua tentara tenggelam. Ia kembali kepada raja dan berkata “engkau tidak dapat membunuhku hingga engkau menurut ajaranku. Engkau kumpulkan semua rakyat dilapangan, gantungkan aku dipohon, kamu pasang busur, dan baca “BISMILLAHI ROBBIL GHULAM” [dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini] lalu lepaskan anak panahnya kearahku. Raja itu menuruti perkataan pemuda itu, sehingga pemuda itu menemui ajalnya. Maka serentak rakyatnya berkata “kami percaya kepada Tuhannya pemuda itu. Sehingga kepercayaan kepada Allah merata disemua lapisan rakyat.

Maka rajapun membuat parit ditiap persimpangan jalan, kemudian dinyalakan api. Setiap orang yang lewat disuruh meninggalkan agamanya, jika menolak, langsung dilemparkan ke dalam parit itu, sehingga banyak orang yang tersiksa. Sampai dating seorang ibu yang membawa bayinya, ketika ditarik bayinya akan dilemparkan keparit ibu itu menyerah. Tiba-tiba bayi itu bicara “hai ibu sabarlah, karena engkau dalam kebenaran. [HR Muslim]

Dari kisah diatas kita dapat mengambil pelajaran, betapa seorang yang alim dapat merubah tatanan kehidupan dari kemusyrikan kepada ketauhidan, yaitu dengan ilmu yang benar yang ia ambil dari rahib. Waallahu a’lam.

Sumber :
1.Ma’uidhatul Mu’minin
2. Mukhtashor At Targhib Wa Tarhib
3. Irsyadul ‘Ibad Ila Sabilirrosyad, terjemah oleh H.Salim Bahreisy

ADAKAH KEKHUSUSAN TENTANG QADHA' DAN QADHAR

ADAKAH KEKHUSUSAN TENTANG QADHA' DAN QADHAR

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin ditanya : "Apakah di antara Qadha' dan Qadar terdapat keumuman dan kekhususan ?"

Jawaban

Istilah Qadha' bila dimutlakkan, maka memuat makna Qadar dan sebaliknya istilah Qadar bila dimutlakkan, maka memuat makna Qadha', Akan tetapi bila dikatakan "Qadha-Qadar", maka ada perbedaan di antara keduanya. Hal ini banyak terjadi dalam bahasa Arab. Satu kata dapat bermakna yang luas ketika sendirian dan punya makna khusus bila disatukan (dikumpulkan).

Sebagai contoh dapat dikatakan.

"Bila keduanya bersatu maka berbeda dan bila keduanya dipisah maka bersatu"

Maka kata Qadha' dan Qadar termasuk dalam kondisi seperti ini, artinya bila kata Qadha' dipisahkan (dari kata Qadar), maka memuat Qadar dan sebaliknya kata Qadar bila dipisahkan (dari kata Qadha') maka memuat makna Qadha'. Akan tetapi ketika dikumpulkan, kata Qadha' bermakna sesuatu yang ditetapkan Allah pada mahluk-Nya, baik berupa penciptaan, peniadaan maupun perubahannya. Sedangkan Qadar bermakna sesuatu yang telah ditentukan Allah sejak zaman azali. Inilah perbedaan antara kedua istilah tersebut. Maka Qadar ada lebih dahulu kemudian disusul dengan Qadha'.



Disalin kitab Al-Qadha' wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin', terbitan Pustaka At-Tibyan, penerjemah Abu Idris